Kamis, 25 Juli 2013

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Karya : Elatul Fajrah       
      
            Berawal dari nomor yang tidak aku ketahui, aku mengenalnya, disaat dia menelfonku, aku bertanya kepadanya “maaf ini dengan siapa?” diapun menjawabnya dengan sedikit rasa penasaran “loch? Bukannya nomor ini yang sms saya kemarin?” “ha? Kemarin? Bagamana bisa? Nomor anda ini baru di kontak Hp saya, mungkin salah sambung” sahutku dengan ragu-ragu, “hmmm, tentu saja tidak, nomor yang saya hubungi ini memang ada di inbox saya” jelasnya dengan lembut, “ ohh…kalau begitu biar tidak panjang lebar urusannya, lebih baik kita berkenalan saja” ajakku, “hmmm, baiklah, namaku doni, siapakah namamu?” sahutnya dengan sedikit lega, “ohh….namaku delima, oya mungkin sudah dulu ya? Soalnya sekarang saya sedang sibuk mengerjakan tugas, mungkin dilain waktu, kita bisa saling kontakan lagi” jawabku, dengan sedikit berharap, “o..ok..baiklah, dan maaf jika mengganggu aktivitas anda” jawabnya dengan sedikit tegang dan  mematikan telfonnya tanpa permisi, ada sedikit kejengkelan dalam hatiku, di saat dia mematikan telfon tanpa mengucapkan salam atau kata yang disampaikan disaat ingin menutup telefon, sombong sekali, akupun melanjutkan tugasku, setelah tugasku hampir selesai, datang sms darinya, yang berisi “maaf tadi saya tutup telfon tanpa pamit, sebenarnya saya tidak bermaksud seperti itu, tadi saya hanya sedikit canggung berbicara dengan anda, karena baru kali ini saya menelfon seorang perempuan yang tutur katanya yang lembut seperti anda” setelah aku membacanya, sedikit terlintas bahagia, kemudian akupun membalas pesannya, “iya, tidak apa-apa saya maklumi, dan terimakasih atas pujiannya” “oya boleh saya Tanya sesuatu?” balasnya, “yahh.. tentu saja boleh, anda mau Tanya apa?” balasku dengan sedikit penasaran. Diapun tidak membalasnya, kemungkinan dia sedang sibuk, rasa penasaranku makin menjadi-jadi.
            Beberapa menit kemudian datang sms darinya “maaf baru balas, tadi saya mau Tanya, anda ini aslinya dari mana?” “ oh…saya asli dari bima, anda sendiri dari mana?” balasku dengan berbalik bertanya “saya asli flores, tetapi posisi saya sekarang dimataram” balasnya, “oh..” balasku singkat, “anda sekarang sudah kuliah atau masih SMA?” dia bertanya lagi “ saya masih kelas XI, anda sendiri?” jwawabku, “ saya sudah kuliah, dan sekarang saya sudah semester 3” jawabnya, “oh..begitu?” “iyah, oya boleh tidak saya memberi saran kepada adik?” jawabnya dengan sedikit perhatian “ tentu saja, malahan saya senang jika ada orang yang memberi saya saran, dan isya Allah saya ikuti” jawabku, “oh..baguslah, saya hanya ingin menyarankan kepada adik, kalau masih SMA seperti ini adik jangan dulu pacaran, karena sekali adik mengenal pacaran, selamanya adik tidak akan mau lepas dari pacaran, adik akan sangat ketagihan, karena itulah keindahan cinta terhadap lawan jenis, apa lagi sekarang adikkan masih kelas XI SMA, jadi urungkan niat adik, jika adik punya keinginan untuk berpacaran, dan maaf jika saran saya sedikit mengatur adik..” sarannya, “iyah tidak apa-apa kak, saya juga mengerti dengan apa yang kakak katakan, dan ini sungguh saran yang berharga bagi saya, terimakasih atas sarannya kak?” jawabku dengan sedikit senang, “sama-sama” balasnya singkat.
            Hari demi hari telah berlalu, tahap perkenalan kamipun semakin membuat kami akrab, bagai sepasang adik dan kakak, satu bulan setelah itu dia mengirim sms padaku “adik boleh Tanya tidak?” “iya, boleh..” balasku, “menurut adik pacaran jarak jauh itu bagus tidak?” balasnya dengan Tanya, “kalau menurut ade kalau pacaran jarak jauh itu, bagus, karena itukan sangat mengesankan, di bandingkan dengan pacaran jarak dekat itu membuat kita cepat bosan, apa lagikan sering bertemu, pastinya cepat bosanlah” jawabku, “hmm, baguslah kalau adik berpendapat seperti itu, oya bagaimana kalau ada laki-laki yang suka dengan adik, tapi dia itu jauh dengan adik, apa adik mau menerima cintanya?” diapun bertanya lagi, “hmm…tergantung si, kalau menurut adik orang itu baik, dan buat adik senang, ya insya Allah adik terima, kalau sebaliknya si, ya mohon maaf” jawabku, “oh…bagaimana kalau orang itu adalah kakak? Apa adik mau jadi kekasih kakak?” diapun membalas dengan kata-kata yang membuatku terkejut, setelah membaca sms darinya, akupun berpikir, kenapa dia menginginkan aku untuk menjadi kekasihnya? Bukankah dia pernah menyarankanku untuk tidak berpacaran selama aku berada di SMA? Akan tetapi kenapa malah dia sendiri yang ingin menjadikanku kekasihnya? Itu merupakan tanda Tanya besar dalam benakku, satu jam aku membiarkan smsnya, dan aku memikirkan jawaban yang akan ku katakan padanya, diapun menelfonku, akan tetapi aku tidak menghiraukan panggilan darinya, karena aku sudah benar-benar bingung dengan jawaban yang akan ku berikan kepadanya, seandainya aku tolak, pasti dia tidak akan mau menghubungiku lagi, apalagi dia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri, pasti sangat sulit untuk mencintainya sebagai seorang kekasih, hmm, bingung sekali, setelah itu, aku memutuskan untuk menerimanya, dan mencoba untuk mencintainya sebagai seorang kekasih, setelah aku memutuskan untuk menerimanya, akupun membalas smsnya tadi, “maaf baru balas, hmmm, iyah kak, ade mau jadi kekasih kakak, dan insya Allah ade akan mencoba untuk mencintai kakak dengan setulus hati ade” “terimakasih ya de’? kakak senang sekali de’, akhirnya kakak mendapatkan wanita yang mampu meluluhkan hati kakak yang tidak pernah kenal dengan cinta” balasan darinya yang membuatku kaget di saat dia berkata bahwa dia tidak pernah mengenal cinta, bagiku mustahil seorang lelaki yang berbudi pekerti itu, belum pernah mengenal cinta, aku kira dia sudah berpengalaman dalam hal cinta, akan tetapi malah sebaliknya, hmm, sungguh mengherankan sekali, setelah itu akupun membalas smsnya “iya..sama-sama kak”, setelah itu kamipun berpacaran, walaupun jarak yang memisahkan, akan tetapi kami saling percaya dan saling mengerti satu sama lain, akan tetapi ada kejanggalan dalam hatiku yaitu, sangat sulit bagiku untuk mencintainya, karena aku sudah terlanjur menganggapnya sebagai kakak, begitu sulitnya aku mencintainya, akan tetapi aku harus berusaha untuk mencintainya dengan setulus hatiku..
            Waktu demi waktu kulalui, seiring dengan benih-benih cinta yang mulai tumbuh dalam hatiku, akan tetapi di saat aku mulai mencintainya, dia mulai bersikap dingin padaku, sering marah tanpa alasan yang tak pasti, akupun mencoba untuk menenangkannya, dan terus bersabar dengan sikapnya yang seperti itu, tetapi disaat yang bersamaan ada orang ketiga, yaitu kak husna, dia seorang wanita yang sangat mencintai kak doni, sehingga dia rela mengorbankan keperawanannya demi cintanya kepada kak doni, pikir saja, lelaki mana si yang tidak gampang tergoda oleh body seksi? Tentu saja jarang lelaki yang tidak gampang tergoda, tetapi kak doni termasuk orang yang gampang tegoda oleh si wanita picik itu, dan mereka melakukan hubungan seperti suami istri didalam suatu kamar kost, aku mengetahuinya dari wanita itu sendiri, dia sendiri yang menceritakan semua peristiwa hina itu kepadaku, dia sama sekali tidak punya rasa malu, seharusnya dia tidak menceritakan itu semua kepadaku, karena itu akan membuatnya terlihat hina di depan mataku, tapi begitulah caranya untuk membuatku berubah pikiran, supaya aku memutuskan kak doni, hari itu juga, tapi sayang sekali aku sama sekali tidak menghiraukan ceritanya itu, dan tidak sedikitpun terlintas dalam benakku, untuk mengakhiri hubunganku dengan kak doni, toh, bukan kak doni yang menginginkan peristiwa itu, malah wanita itu sendiri yang mengundang nafsu kak doni, bagiku itu bukanlah masalah yang bisa ku jadi alasan yang tepat untuk mengakhiri hubunganku, karena itu hanya masalah konyol yang terjadi kepada mereka, akupun tidak perduli dengannya, karena yang rusak bukan kekasihku, tetapi dia, hmmm, sungguh memalukan sekali wanita itu, dan yang lebih menjengkelkan lagi, dia selalu menerorku dengan kata-kata kotor dengan menggunakan bahasa daerahnya, yaitu bahasa Lombok, aku hanya diam saja, dan tidak mau membalasnya, karena itu akan menjadi masalah yang besar, aku juga tidak mau di bilang oleh orang-orang bahwa aku rela menghinakan diriku melawan wanita itu demi seorang lelaki yang tidak aku ketahui identitasnya dengan jelas, tohh, masih banyak lelaki yang lebih baik darinya, hmm, wanita itu tidak pernah menyerah untuk menerorku, sampai akhirnya aku mengganti nomorku, itu bukan berarti aku kalah, tetapi aku memang tidak mau membuat masalah dengan orang yang tidak penting sepertinya.
            Satu bulan kemudian aku mencoba untuk menelfon kak doni, tapi sayang sekali yang menerima telefonku itu bukan dia, tetapi ibu tirinya, aku sedikit berbincang-bincang dengan ibu tirinya, dan mencoba untuk saling mengenal, ternyata ibu tirinya itu baik sekali, aku sangat senang bisa berbincang-bincang dengannya, kami hanya memperbincangkan masalah keluarganya yang selalu rukun, walaupun pernah beberapa kali terjadi konflik, ibu tirinyapun suka bercanda dan pandai berbicara, kemudian di sela-sela perbincangan kami, aku menanyakan kepadanya tentang kak doni “bu’, sebenarnya kak doni itu sudah berapa kali berpacaran?” “setau ibu dia tidak pernah pacaran, apa lagi dia itu paling takut saat bertemu dengan wanita, waktu SMAnya saja dia tidak pernah menghiraukan wanita yang menyukainya, dia hanya membiarkannya begitu saja, hmm, memangnya kenapa delima bertanya seperti itu? Apa delima punya hubungan special dengan anak saya?” jawab ibunya dengan berbalik bertanya, “ ahh ibu, tidak ko’, saya hanya teman dekatnya saja, apa lagi saya sudah menganggapnya sebagai kakak saya sendiri, jadi mana mungkin saya mempunyai hubungan special dengannya” jawabku  dengan sedikit malu, “oh, begitu? Oya sudah dulu ya nak? Ibu mau kepasar dulu, assalamu’alaikum..” “wa’alaikumsalam” sahutku, berbincangan kamipun selesai, dan aku merasa sangat tersanjung ketika mengingat perkataan ibu tirinya yang mengatakan bahwa dia tidak pernah mempunyai kekasih..
            Dua minggu kemudian, aku mendapat pesan dari nomor yang tidak aku kenal, pesannya berisi “ assalamu’alaikum? Adik, kak doni minta ditelfon oleh adik, katanya mau minta tolong sesuatu, bisa tidak ade menelfonnya? Balas, by satri”. Aku merasa penasaran dengan satri ini, nama ini asing bagiku, kemudian aku membalas smsnya “ wa’alaikumsalam, maaf saya tidak punya pulsa, oya satri ini siapanya kak dony?” tanyaku dengan penuh penasaran, “oh, saya pacarnya kak doni, oya adik ini siapanya kak doni? Balasnya dengan melempar kembali pertanyaanku, “oh, sudah berapa lama pacarannya kak? Dan saya temannya kak doni di bima” balasku dengan sedikit rasa kecewa, “oh, baru dua minggu yang lalu kami jadian” balasnya yang  makin membuatku kecewa, setelah aku membaca pesan itu, hiks,,hiks,,air mataku mulai membasahi pipiku, hatiku sakit, bagai di iris pedang, hatiku hancur berkeping-keping, aku menyesal telah menerima dan mencintainya, ternyata dia hanya mencintaiku sebentar, dan setelah dia menemukan yang lebih baik dariku, dia tega mengkhianatiku,  padahal benih-benih cinta itu sudah tumbuh dalam hatiku, tapi mengapa disaat aku mulai mencintainya dia malah menduakanku, mengapa? Apa salahku? Padahal aku tidak pernah menduakannya, apa lagi mengecewakannya, sekarang aku menyadari, bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan, mutiara cinta yang pernah dia berikan dulu, kini menjadi bangkai yang membusuk dalam relung hatiku, kiniku menyadari, bahwa cinta itu tidak harus dimiliki seutuhnya, dan mulai saat itu, aku mencoba untuk melupakannya, dan mengisi hari-hariku itu dengan berbagai macam kesibukan tugas sekolahku, dan sejak saat itu aku sudah tidak pernah lagi menghubunginya, bayangnyapun sudah tak terlintas dalam benakku, dan aku sangat bersyukur, karena aku bisa melupakannya dalam waktu yang relative singkat…
            Inilah yang dinamakan cinta yang bertepuk sebelah tangan, seperti kata pepatah, air susu dibalas dengan air tuba, dan aku juga bisa menyimpulkan bahwa tidak selamanya orang yang kita cintai itu akan menjadi milik kita seutuhnya”.
 
SEKIAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar