Karya : Elatul Fajrah
Berawal dari nomor yang tidak aku
ketahui, aku mengenalnya, disaat dia menelfonku, aku bertanya kepadanya “maaf
ini dengan siapa?” diapun menjawabnya dengan sedikit rasa penasaran “loch?
Bukannya nomor ini yang sms saya kemarin?” “ha? Kemarin? Bagamana bisa? Nomor
anda ini baru di kontak Hp saya, mungkin salah sambung” sahutku dengan
ragu-ragu, “hmmm, tentu saja tidak, nomor yang saya hubungi ini memang ada di
inbox saya” jelasnya dengan lembut, “ ohh…kalau begitu biar tidak panjang lebar
urusannya, lebih baik kita berkenalan saja” ajakku, “hmmm, baiklah, namaku
doni, siapakah namamu?” sahutnya dengan sedikit lega, “ohh….namaku delima, oya
mungkin sudah dulu ya? Soalnya sekarang saya sedang sibuk mengerjakan tugas,
mungkin dilain waktu, kita bisa saling kontakan lagi” jawabku, dengan sedikit
berharap, “o..ok..baiklah, dan maaf jika mengganggu aktivitas anda” jawabnya
dengan sedikit tegang dan mematikan
telfonnya tanpa permisi, ada sedikit kejengkelan dalam hatiku, di saat dia
mematikan telfon tanpa mengucapkan salam atau kata yang disampaikan disaat
ingin menutup telefon, sombong sekali, akupun melanjutkan tugasku, setelah
tugasku hampir selesai, datang sms darinya, yang berisi “maaf tadi saya tutup telfon
tanpa pamit, sebenarnya saya tidak bermaksud seperti itu, tadi saya hanya
sedikit canggung berbicara dengan anda, karena baru kali ini saya menelfon
seorang perempuan yang tutur katanya yang lembut seperti anda” setelah aku
membacanya, sedikit terlintas bahagia, kemudian akupun membalas pesannya, “iya,
tidak apa-apa saya maklumi, dan terimakasih atas pujiannya” “oya boleh saya
Tanya sesuatu?” balasnya, “yahh.. tentu saja boleh, anda mau Tanya apa?”
balasku dengan sedikit penasaran. Diapun tidak membalasnya, kemungkinan dia
sedang sibuk, rasa penasaranku makin menjadi-jadi.
Beberapa menit kemudian datang sms
darinya “maaf baru balas, tadi saya mau Tanya, anda ini aslinya dari mana?” “
oh…saya asli dari bima, anda sendiri dari mana?” balasku dengan berbalik
bertanya “saya asli flores, tetapi posisi saya sekarang dimataram” balasnya,
“oh..” balasku singkat, “anda sekarang sudah kuliah atau masih SMA?” dia
bertanya lagi “ saya masih kelas XI, anda sendiri?” jwawabku, “ saya sudah
kuliah, dan sekarang saya sudah semester 3” jawabnya, “oh..begitu?” “iyah, oya
boleh tidak saya memberi saran kepada adik?” jawabnya dengan sedikit perhatian
“ tentu saja, malahan saya senang jika ada orang yang memberi saya saran, dan
isya Allah saya ikuti” jawabku, “oh..baguslah, saya hanya ingin menyarankan
kepada adik, kalau masih SMA seperti ini adik jangan dulu pacaran, karena
sekali adik mengenal pacaran, selamanya adik tidak akan mau lepas dari pacaran,
adik akan sangat ketagihan, karena itulah keindahan cinta terhadap lawan jenis,
apa lagi sekarang adikkan masih kelas XI SMA, jadi urungkan niat adik, jika
adik punya keinginan untuk berpacaran, dan maaf jika saran saya sedikit
mengatur adik..” sarannya, “iyah tidak apa-apa kak, saya juga mengerti dengan
apa yang kakak katakan, dan ini sungguh saran yang berharga bagi saya,
terimakasih atas sarannya kak?” jawabku dengan sedikit senang, “sama-sama”
balasnya singkat.
Hari demi hari telah berlalu, tahap
perkenalan kamipun semakin membuat kami akrab, bagai sepasang adik dan kakak,
satu bulan setelah itu dia mengirim sms padaku “adik boleh Tanya tidak?” “iya,
boleh..” balasku, “menurut adik pacaran jarak jauh itu bagus tidak?” balasnya
dengan Tanya, “kalau menurut ade kalau pacaran jarak jauh itu, bagus, karena
itukan sangat mengesankan, di bandingkan dengan pacaran jarak dekat itu membuat
kita cepat bosan, apa lagikan sering bertemu, pastinya cepat bosanlah” jawabku,
“hmm, baguslah kalau adik berpendapat seperti itu, oya bagaimana kalau ada
laki-laki yang suka dengan adik, tapi dia itu jauh dengan adik, apa adik mau
menerima cintanya?” diapun bertanya lagi, “hmm…tergantung si, kalau menurut
adik orang itu baik, dan buat adik senang, ya insya Allah adik terima, kalau
sebaliknya si, ya mohon maaf” jawabku, “oh…bagaimana kalau orang itu adalah
kakak? Apa adik mau jadi kekasih kakak?” diapun membalas dengan kata-kata yang
membuatku terkejut, setelah membaca sms darinya, akupun berpikir, kenapa dia
menginginkan aku untuk menjadi kekasihnya? Bukankah dia pernah menyarankanku
untuk tidak berpacaran selama aku berada di SMA? Akan tetapi kenapa malah dia
sendiri yang ingin menjadikanku kekasihnya? Itu merupakan tanda Tanya besar
dalam benakku, satu jam aku membiarkan smsnya, dan aku memikirkan jawaban yang
akan ku katakan padanya, diapun menelfonku, akan tetapi aku tidak menghiraukan
panggilan darinya, karena aku sudah benar-benar bingung dengan jawaban yang
akan ku berikan kepadanya, seandainya aku tolak, pasti dia tidak akan mau
menghubungiku lagi, apalagi dia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri, pasti
sangat sulit untuk mencintainya sebagai seorang kekasih, hmm, bingung sekali,
setelah itu, aku memutuskan untuk menerimanya, dan mencoba untuk mencintainya
sebagai seorang kekasih, setelah aku memutuskan untuk menerimanya, akupun
membalas smsnya tadi, “maaf baru balas, hmmm, iyah kak, ade mau jadi kekasih
kakak, dan insya Allah ade akan mencoba untuk mencintai kakak dengan setulus
hati ade” “terimakasih ya de’? kakak senang sekali de’, akhirnya kakak
mendapatkan wanita yang mampu meluluhkan hati kakak yang tidak pernah kenal
dengan cinta” balasan darinya yang membuatku kaget di saat dia berkata bahwa
dia tidak pernah mengenal cinta, bagiku mustahil seorang lelaki yang berbudi
pekerti itu, belum pernah mengenal cinta, aku kira dia sudah berpengalaman
dalam hal cinta, akan tetapi malah sebaliknya, hmm, sungguh mengherankan
sekali, setelah itu akupun membalas smsnya “iya..sama-sama kak”, setelah itu
kamipun berpacaran, walaupun jarak yang memisahkan, akan tetapi kami saling
percaya dan saling mengerti satu sama lain, akan tetapi ada kejanggalan dalam
hatiku yaitu, sangat sulit bagiku untuk mencintainya, karena aku sudah
terlanjur menganggapnya sebagai kakak, begitu sulitnya aku mencintainya, akan
tetapi aku harus berusaha untuk mencintainya dengan setulus hatiku..
Waktu demi waktu kulalui, seiring
dengan benih-benih cinta yang mulai tumbuh dalam hatiku, akan tetapi di saat
aku mulai mencintainya, dia mulai bersikap dingin padaku, sering marah tanpa
alasan yang tak pasti, akupun mencoba untuk menenangkannya, dan terus bersabar
dengan sikapnya yang seperti itu, tetapi disaat yang bersamaan ada orang
ketiga, yaitu kak husna, dia seorang wanita yang sangat mencintai kak doni,
sehingga dia rela mengorbankan keperawanannya demi cintanya kepada kak doni,
pikir saja, lelaki mana si yang tidak gampang tergoda oleh body seksi? Tentu
saja jarang lelaki yang tidak gampang tergoda, tetapi kak doni termasuk orang
yang gampang tegoda oleh si wanita picik itu, dan mereka melakukan hubungan
seperti suami istri didalam suatu kamar kost, aku mengetahuinya dari wanita itu
sendiri, dia sendiri yang menceritakan semua peristiwa hina itu kepadaku, dia
sama sekali tidak punya rasa malu, seharusnya dia tidak menceritakan itu semua
kepadaku, karena itu akan membuatnya terlihat hina di depan mataku, tapi
begitulah caranya untuk membuatku berubah pikiran, supaya aku memutuskan kak
doni, hari itu juga, tapi sayang sekali aku sama sekali tidak menghiraukan
ceritanya itu, dan tidak sedikitpun terlintas dalam benakku, untuk mengakhiri
hubunganku dengan kak doni, toh, bukan kak doni yang menginginkan peristiwa
itu, malah wanita itu sendiri yang mengundang nafsu kak doni, bagiku itu
bukanlah masalah yang bisa ku jadi alasan yang tepat untuk mengakhiri hubunganku,
karena itu hanya masalah konyol yang terjadi kepada mereka, akupun tidak
perduli dengannya, karena yang rusak bukan kekasihku, tetapi dia, hmmm, sungguh
memalukan sekali wanita itu, dan yang lebih menjengkelkan lagi, dia selalu menerorku
dengan kata-kata kotor dengan menggunakan bahasa daerahnya, yaitu bahasa
Lombok, aku hanya diam saja, dan tidak mau membalasnya, karena itu akan menjadi
masalah yang besar, aku juga tidak mau di bilang oleh orang-orang bahwa aku
rela menghinakan diriku melawan wanita itu demi seorang lelaki yang tidak aku
ketahui identitasnya dengan jelas, tohh, masih banyak lelaki yang lebih baik
darinya, hmm, wanita itu tidak pernah menyerah untuk menerorku, sampai akhirnya
aku mengganti nomorku, itu bukan berarti aku kalah, tetapi aku memang tidak mau
membuat masalah dengan orang yang tidak penting sepertinya.
Satu bulan kemudian aku mencoba untuk
menelfon kak doni, tapi sayang sekali yang menerima telefonku itu bukan dia,
tetapi ibu tirinya, aku sedikit berbincang-bincang dengan ibu tirinya, dan
mencoba untuk saling mengenal, ternyata ibu tirinya itu baik sekali, aku sangat
senang bisa berbincang-bincang dengannya, kami hanya memperbincangkan masalah
keluarganya yang selalu rukun, walaupun pernah beberapa kali terjadi konflik,
ibu tirinyapun suka bercanda dan pandai berbicara, kemudian di sela-sela
perbincangan kami, aku menanyakan kepadanya tentang kak doni “bu’, sebenarnya
kak doni itu sudah berapa kali berpacaran?” “setau ibu dia tidak pernah
pacaran, apa lagi dia itu paling takut saat bertemu dengan wanita, waktu SMAnya
saja dia tidak pernah menghiraukan wanita yang menyukainya, dia hanya
membiarkannya begitu saja, hmm, memangnya kenapa delima bertanya seperti itu?
Apa delima punya hubungan special dengan anak saya?” jawab ibunya dengan
berbalik bertanya, “ ahh ibu, tidak ko’, saya hanya teman dekatnya saja, apa
lagi saya sudah menganggapnya sebagai kakak saya sendiri, jadi mana mungkin
saya mempunyai hubungan special dengannya” jawabku dengan sedikit malu, “oh, begitu? Oya sudah
dulu ya nak? Ibu mau kepasar dulu, assalamu’alaikum..” “wa’alaikumsalam”
sahutku, berbincangan kamipun selesai, dan aku merasa sangat tersanjung ketika
mengingat perkataan ibu tirinya yang mengatakan bahwa dia tidak pernah
mempunyai kekasih..
Dua minggu kemudian, aku mendapat
pesan dari nomor yang tidak aku kenal, pesannya berisi “ assalamu’alaikum?
Adik, kak doni minta ditelfon oleh adik, katanya mau minta tolong sesuatu, bisa
tidak ade menelfonnya? Balas, by satri”. Aku merasa penasaran dengan satri ini,
nama ini asing bagiku, kemudian aku membalas smsnya “ wa’alaikumsalam, maaf
saya tidak punya pulsa, oya satri ini siapanya kak dony?” tanyaku dengan penuh
penasaran, “oh, saya pacarnya kak doni, oya adik ini siapanya kak doni?
Balasnya dengan melempar kembali pertanyaanku, “oh, sudah berapa lama
pacarannya kak? Dan saya temannya kak doni di bima” balasku dengan sedikit rasa
kecewa, “oh, baru dua minggu yang lalu kami jadian” balasnya yang makin membuatku kecewa, setelah aku membaca
pesan itu, hiks,,hiks,,air mataku mulai membasahi pipiku, hatiku sakit, bagai
di iris pedang, hatiku hancur berkeping-keping, aku menyesal telah menerima dan
mencintainya, ternyata dia hanya mencintaiku sebentar, dan setelah dia
menemukan yang lebih baik dariku, dia tega mengkhianatiku, padahal benih-benih cinta itu sudah tumbuh
dalam hatiku, tapi mengapa disaat aku mulai mencintainya dia malah menduakanku,
mengapa? Apa salahku? Padahal aku tidak pernah menduakannya, apa lagi
mengecewakannya, sekarang aku menyadari, bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan,
mutiara cinta yang pernah dia berikan dulu, kini menjadi bangkai yang membusuk
dalam relung hatiku, kiniku menyadari, bahwa cinta itu tidak harus dimiliki
seutuhnya, dan mulai saat itu, aku mencoba untuk melupakannya, dan mengisi
hari-hariku itu dengan berbagai macam kesibukan tugas sekolahku, dan sejak saat
itu aku sudah tidak pernah lagi menghubunginya, bayangnyapun sudah tak
terlintas dalam benakku, dan aku sangat bersyukur, karena aku bisa melupakannya
dalam waktu yang relative singkat…
“Inilah yang dinamakan cinta yang
bertepuk sebelah tangan, seperti kata pepatah, air susu dibalas dengan air
tuba, dan aku juga bisa menyimpulkan bahwa tidak selamanya orang yang kita
cintai itu akan menjadi milik kita seutuhnya”.
SEKIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar