Kamis, 25 Juli 2013

Cinta Bukan Untukmu Sahabatku

 Karangan: Iftah Khaerin


         Aku memandangi rembulan yang bersinar jauh di sana. Dan malam semakin malam. Larut sudah, namun mataku pantang tuk terpejam. Desiran angin malam merayapi tubuhku, dingin. Jam dinding masih berdetak keras. Pukul tiga pagi..
            Peringatan untukku. Jika aku tak tidur sekarang. Pasti… Di sekolah aku akan nundutan berat.
          Aku masih mengingat wajahnya. Dia… Yang selalu ada dalam tiap lembaran diaryku. Laki-laki pujaan hatiku.
         Kutarik diary dari dalam lemari. Tersenyum-senyum sendiri aku merasakan ia hadir disampingku. Ia tak pernah pergi kemana-mana. Azam habib namanya, putra ulama dari banten, ialah satu-satunya alasan mengapa aku tak pernah memudarkan senyum dan hijab muslimahku. Aku sangat mencintainya… Kami mengucap janji setia di atas hamparan pasir putih pantai parangritis. Lima bulan lalu… Ia katakan, i love you.
Masa indah itu adalah surgaku. Ia malaaikat yang di kirim tuhan tuk menjaga hatiku. Terima kasih azam.
           Aku tertidur..
          Udara dingin di bandung masih membalut suasana kota. Semangat aku berangkat sekolah. Benar saja aku terkantuk berat ketika pelajaran bahasa inggris. Sampai aku tertidur.
           Azam membangunkanku ketika jam istirahat tiba. Ini hal yang biasa.
           Ia mengajakku kekantin. Aku terima.
           Ia mentraktirku minuman jus. Kantukku telah berhasil di tebas oleh kedatangannya.
          “la… Tour nanti aku gak bisa ikut”.
          Aku cemberut kecewa “kenapa”.
          “aku harus ikut dengan abah pulang ke banten, ada seminar para ulama disana..” Jelasnya.
          Aku merunduk, tersenyum walaupun hatiku kecewa “wajibkah..”.
         “bagi abahku ini wajib”.
       Aku menagangguk dan mencoba menerima kenyataan ini. Aku akan sendirian di wisata tour nanti, padahal harapan telah kususun tuk bersamanya. Menyaksikan sunset. Jalan berduaan. Mungkin… Tuhan belum ikhlas kami melakukan kemesraan itu.
          “laila…” Ada yang bergumam namaku. Azam memandang ke belakangku.
          Aku menoleh kebelakang “gibran..” Seruku. Ia sahabat dekatku sewaktu SMP.
          “bran ko ada di sini sih.. Bukannya merantau ke sumatra?”.
          Ia tersenyum “aku pindah lagi kesini dan sekarang aku sekolah disini” Jelasnya enteng.
          “oooh.. Zam, kenalin….Dia sahabatku, waktu smp”.
       “oh iya.. Azam”. Azam menyambut gibran dengan ramah. Aku memandang gibran dengan perasaan yang aneh dan tidak enak. Mataku berkaca-kaca.
      Aku ingat masa lalu, sebelum gibran meninggalkanku. Aku jatuh cinta dan tak mau kehilangannya walaupun satu detik. Namun hatinya berkata lain. Ia mencemoohku dan memilih sintia sebagai pacarnya dari pada aku. Aku terpuruk dan kehilangan bagian dari hidupku waktu itu. Air mata tiada jeda mengalir hanya untuk gibran seorang.
         Kami mengobrol banyak tentang masa lalu ku yang cengeng, namun ku tetap menyimpan sakit hati itu. Azam pun membungkam, ia tak megatakan tentang hubunganku dengannya. Sepertinya ia mengetahui sesuatu.
      Hampir satu bulan kemudian, gibran bersikap berlebihan padaku. Sesekali ia memegang tanganku dihadapan azam. Aku mencoba melepas genggaman itu. Azam tersenyum.
       Malam tahun baru 2011, gibran mengajakku ke restoran. Namun aku menolak jika azam tidak ikut. Akhirnya ia memenuhi permintaanku.
         Gibran berdandan berbeda kali ini. Rapih sekali…
Aku mencoba tuk menjaga perasaan azam. Aku duduk dekatnya. Dan menghiraukan tiap kalimat yang muncul dari bibirnya.
        “zam… Minum..” Kata gibran.
      Gibran memandangku terus. Aku mengenggam lengan azam diam-diam. Kini aku dapat menangkap kecemburuan di mata azam.
        “la… Ada yang mau aku omongin sama kamu, tapi empat mata”.
         Aku membelalak. “ga… Azam harus disini”.
       “tapi la…”
       “ga.. Azam harus di sini” Ucapku sekail lagi. Agak membentak.
       “ya sudah..” Gibran melempar senyum pada azam. “zam gak papa kan..”
       Azam mengangguk, ku tau ia berat melihat ini. Ada apa sebenarnya dan mau apa gibran.
       Ia merogoh sesuatu di sakunya, bunga mawar merah ia sodorkan kehadapan wajahku. “la… Jujur akau suka sama kamu… Aku jatuh cinta sama kamu”. Ucapnya. Enteng sekali.
        Azam membelalak kaget. Aku mencengkeram lengannya di bawah meja “apa?”.
        “ia laila aku cinta sama kamu”
        “a-a-aku gak bisa bran..”
        Ia tiba-tibaa lemas dan menjatuhkan bunganya “k-kenapa la..”.
      “bran… Aku memang suka dan cinta sama kamu, tapi itu dulu sebelum kamu sama liana… Aku udah terlanjur sakit hati sama kamu. Dan, rasa itu gak mungkin kembali lagi bran… K-karena”.
        “karena apa…” Tanyanya, matanya kini berkacaa-kaca.
      “bran.. Hati laila udah jadi milik aku” Gumam azam. “kami berpacaran hampir enam bulan zam” Lanjut azam.
       Ya tuhan, azam berani mengungkapkan semuanya. Dia benar cinta dan setia dengan hubungan cinta kita.
       “maafin aku bran… Aku gak bisa…” Ucapku sekali lagi.
       “jadi.. Selama ini kalian..”
      “iya.. Maafin aku juga bran… Bukannya aku merebut laila.. Tapi kami sudah mengucap janji setia”. Bela azam, ia memegang lenganku dan mengajakku pergi meninggalkan gibran.
      Gibran terduduk diam sendiri disana. Kisah sakit hati yang ia telan adalah balasan dari masa lalu untuknya, hargai wanita lain yang lebih baik dari aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar