Jika
membicarakan tentang ‘cinta pertama’, memori saya langsung melayang ke masa SMP
saya. Waktu itu saya menyukai teman main saya. Saya mengagumi dia karena
perhatiannya yang sungguh baik pada adik-adiknya. Ketika adiknya jatuh, dia
cepat-cepat memberinya obat. Kadang dia menggendong adiknya supaya mau pulang
untuk tidur. Saya begitu terkesima dengan semua tindakannya itu. Sampai-sampai
saya terdiam memperhatikan kebaikan-kebaikannya pada adik-adiknya. Diam-diam
saya menyukainya.
Saya adalah
seorang anak sulung dengan satu adik yang tidak pernah merasakan perhatian
seorang kakak dan menjadi begitu kagum ketika ada seorang anak perempuan yang
begitu memberikan perhatian pada keluarganya. Dia pun bersikap sangat baik pada
saya, dia tahu saya sangat dilindungi oleh orang tua saya jadi dia pun membantu
memperhatikan saya.
Masih di masa
SMP, saya memutuskan untuk memberi tahu dia tentang perasaan saya. Saya katakan
saya menyukainya dan kagum padanya karena kebaikan dan perhatiannya pada
keluarganya. Saya katakan dia telah menginspirasi saya tentang kasih seorang
kakak pada keluarganya. Tak disangka gayung pun bersambut. Dia membalas
perasaan saya dan kami jadian selama setahun lebih. Waku terus berlalu. Kami
berdua bertambah besar. Dia pindah rumah dan mulai memasuki SMA. Hubungan kami
semakin menjauh. Suatu saat dia mengatakan dia menyukai teman sekolahnya yaitu
seorang laki-laki yang tergolong cukup cakep di sekolahnya.
Akhirnya saya
memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Setelah putus saya mengalami patah
hati yang bisa dibilang cukup dalam. Berhari-hari saya mengurung diri dan
menangis. Dan patah hati terus membekas sampai saya lulus SMA. Bertahun-tahun
saya menyalahkan diri saya sendiri, saya menyalahkan diri saya yang kurang
cakep, yang berkulit sawo matang bukannya berkulit putih bersih, saya
menyalahkan tingkah laku saya yang tidak gagah, dan masih banyak lagi. Semua
itu membuat saya minder jika saya mulai menyukai seorang teman perempuan. Saya
menganggap pasti mereka pun akan meninggalkan saya karena semua kekurangan
saya. Kegagalan cinta pertama saya membuat saya bisa menghargai hubungan asmara
saya yang berikutnya.
Mungkin tanpa
pengalaman cinta pertama saya yang bertepuk sebelah tangan, saya tidak akan
bisa menghargai dan mensyukuri perhatian kekasih saya selanjutnya. Seolah
kegagalan cinta pertama itu mempersiapkan saya untuk hubungan asmara saya yang
berikutnya. Terkadang jika kita mau mengamati peristiwa-peristiwa kegagalan
yang terjadi dalam hidup kita, akan terlihat bahwa kegagalan-kegagalan itu
ternyata mempersiapkan kita untuk mengahadapi peristiwa lainnya yang jauh lebih
besar. Seolah pengalaman-pengalaman masa lalu seperti sebuah sekolah dan
pembelajaran untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup sekarang dan di masa
depan.
Walaupun
tidak bisa dipungkiri, pada saat kegagalan-kegagalan itu terjadi, di hati
terasa seperti teriris sebuah pisau yang sangat tajam. Seorang teman saya
mengatakan tanpa kebangkrutan perusahaan suaminya, dia tidak akan pernah
mandiri dan mengerti bagaimana mengelola sebuah perusahaan. Di saat
kebangkrutan perusahaannya, suaminya menjadi depresi berat dan dia yang
sebelumnya tidak pernah diijinkan bekerja oleh suaminya harus mengurus semua
urusan perusahaannya itu. Dia berkata apapun akan bisa dia hadapi karena dia
pernah sampai di titik terendah dalam hidupnya. Dan saat ini ia sedang merintis
kembali perusahaannya bersama anak-anaknya dengan mimpi yang jauh lebih besar
yang sebelumnya tidak berani ia pikirkan.
Dia bergurau,
“Tanpa kebangkrutan ini, saya hanya akan terus menjadi seorang ibu rumah tangga
yang mahir memilih apel di supermarket”.Sebuah pengalaman kegagalan di masa
lalu seperti sebuah sekolah dan pembelajaran untuk membuka tahapan berikutnya
dalam kehidupan kita. Setiap kegagalan harus dilewati sebagai anak-anak tangga
menuju langkah lebih tinggi. Dan karena itulah kisah-kisah kegagalan sangat
perlu untuk diceritakan sebagai api inspirasi bagi orang-orang lainnya yang
sedang menghadapi kegagalan dalam hidupnya.
Karena biar
bagaimana pun, pada saat kegagalan terjadi, kita membutuhkan pemantik api
semangat sebagai pengingat kita untuk bangkit kembali. Dan kita membutuhkan
kisah-kisah dan dukungan yang bisa menginspirasi kita untuk melewatinya. Jadi…
jika Anda sedang gagal, ayo bangkit lagi! Dan suatu saat Anda juga ingatkan
saya untuk terus bangkit lagi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar